Minggu, 18 Desember 2011

RYAN - Soeprijadi Tomodihardjo

SAYA tak ingat lagi kalimat dia selengkapnya, namun ketika Ambar menelepon, saya tahu pasti, pengakuan itu bukan orang lain yang mengucapkannya, melainkan si anak muda: ”They are my parents.” Sejak itu tiada lagi sesuatu yang perlu saya ragukan.

***

Barangkali sudah lama anak muda itu berada di tepi jalan sana, tetapi saya baru tahu ketika berdiri di balik gorden jendela ruang depan. Di bawah cahaya remang kekuningan lampu jalanan, ia coba membaca tulisan yang agaknya tidak jelas pada selembar kertas, lalu diselipkan dalam saku di balik dada jaketnya.

Demi mencegah tatapan mata para pejalan kaki di malam sesenyap ini, lampu ruang tamu sengaja saya padamkan. Saya sempat mengamati gerak-geriknya dengan rasa curiga ketika tangannya coba menggoyang jeruji pagar besi halaman depan. Tak jelas benar rupa wajahnya, tetapi pasti sosok seorang lelaki.

Saya sendirian saja menjaga rumah Mas Pras ketika beliau pergi mengantar Yu Karsi ke Bantul menengok cucu yang sedang parah menderita demam berdarah. Ya, ada saja bencana yang mengancam daerah ini: banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, lahar Merapi…

Belum lagi usai kesibukan mengatasi kerusakan akibat bencana gempa di pedesaan, kini mobil-mobil dinas puskesmas sibuk keluar-masuk perkampungan karena penyakit mulai berjangkit seiring tibanya musim penghujan. Kecemasan menjalar bak penyakit sampar yang mengerikan.

Mas Pras dan Yu Karsi sangat khawatir pada kondisi kesehatan cucunya. Mereka meminta saya tinggal di rumah sendirian beberapa hari saja, menunggu tim relawan Australia yang akan meninggalkan Jogyakarta awal bulan depan. Menurut rencana, mereka akan mengakhiri misi humaniternya di pedesaan, lalu istirahat beberapa hari di Bali sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke negeri mereka. Ini rombongan relawan terakhir dari Negeri Kanguru yang berada di Jawa Tengah sejak gempa. Mas Pras terpaksa menunda pertemuan dengan mereka.

Pada hari yang sama, Yu Dar, pembantu usaha keteringnya, pamit prei beberapa hari untuk menengok keluarganya di desa. Mengangkat kerabat dekat selaku pembantu, acap kali menyulitkan Mas Pras sendiri. Beliau lebih banyak mengalah demi mencegah salah paham di pihak kerabatnya di desa. Hal yang sejak awal telah diperingatkan istrinya. Namun Mas Pras mengizinkan Yu Dar cuti beberapa hari karena urusannya menyangkut bencana yang menimpa keluarganya di desa.

Cuaca sudah gelap dan senyap ketika saya memeriksa semua jendela dan pintu belakang. Dari jendela ruang makan saya lihat Yu Dar ternyata lupa mengentas jemuran sprei dan beberapa sawal bantal. Saya khawatir jangan-jangan si anak muda yang mencurigakan itu menunggu saat yang tepat untuk melompat ke halaman rumah dan menyambar jemuran Yu Dar. Cepat-cepat saya melangkah ke halaman belakang, mengunci pintu garasi, mengentas semua jemuran dan memalang pintu belakang.

Ketika saya balik ke ruang tamu dan mengintip dari sela gorden jendela, nampak si anak muda masih berada di tempatnya, tetapi sekarang asyik berbincang dengan seorang perempuan muda pengendara sepeda. Di bawah cahaya lemah lampu jalanan, saya lihat perempuan itu menuding ke kanan kemudian ke kiri sembari memegangi setang sepedanya, dan tiba-tiba menunjuk ke arah rumah Mas Pras. Saat itu timbul tanda tanya di hati saya, apa pula yang sedang mereka bicarakan tentang rumah ini, tentang Mas Pras dan istrinya, mungkin juga tentang Yu Dar dan kehadiran saya selaku tamu di rumah ini. Namun tiba-tiba perempuan itu menghela sepedanya, meninggalkan si anak muda yang tak juga bergeser dari tempatnya.

Saya merasa agak tenang ketika si anak muda melangkah ke arah yang sama sembari membenamkan kedua tangan dalam saku jaketnya dan menghilang begitu saja. Beberapa saat saya menunggu barangkali mereka muncul kembali. Ternyata tidak. Keduanya lenyap bak siluman takut kesiangan.

Lampu ruang tamu tetap tak saya nyalakan, tetapi televisi saya biarkan menyala dengan suara dikecilkan. Saya tak lagi peduli apakah si anak muda menyelinap di pekarangan rumah. Andai dia berniat jahat dan berhasil melompat masuk halaman, paling banter bisa menyambar ember karatan yang selamanya dibiarkan tersandar di sisi tembok garasi. Namun saya sontak tersentak ketika ponsel di sisi televisi meringkik-ringkik. Itu tentu Mas Pras atau Yu Karsi, pikir saya. Cepat-cepat ponsel saya angkat, tetapi suara di seberang sana ternyata datang dari mulut seorang perempuan yang tak saya kenal.

”Selamat malam, Pak. Betul ya ini rumah Pak Prasetya? Saya perlu bicara dengan beliau.”

”Ya, betul. Tetapi Pak Prasetya sedang berada di luar kota, belum pasti kapan pulangnya. Anda sendiri siapa?”

”Saya Ambar, anak Gama, Pak. Ada urusan mendesak yang perlu saya sampaikan.”

Wuah, anak Gama! Mau apa lagi kalau bukan mengemis derma! Akhir-akhir ini ada saja pelajar dan mahasiswa keliaran siang-malam mendatangi rumah-rumah, mengaku pengerah dana bagi para korban. Kalau mereka datang waktu siang, biar sepuluh ribu rupiah bolehlah. Tapi ini malam hari! Mas Pras sudah lama tidak percaya pada pengumpul dana. Kontan saya nasehatkan, ”Begini ya Mbak, kalau urusan derma, di kota ini Pak Prasetya sendiri salah seorang kordinator sekaligus donatur! Coba pikirkan, apakah beliau harus terus ditodong?”

Apa jawab dia? ”Lho, belum-belum kok Bapak sudah curiga… Saya tidak meminta derma. Saya mengantar seorang relawan. Dari Australi Pak! Dia bawa titipan untuk Pak Prasetya.”

Masya Allah, ternyata saya keburu nafsu menafsir kalimat si anak Gama! Padahal urusannya menyangkut titipan dari luar negeri, dan itu pasti berupa bantuan untuk korban gempa. Saya justru harus menerimanya, bukan menolaknya.

”Halo Pak!” Terdengar lagi suara Ambar karena saya lambat menjawab.

”Ya, teruskan saja ngomongnya. Titipan dari Australi?”

”Ya Pak. Di sebelah saya ini orangnya. Dia perlu menyerahkan titipan. Saya cuma mengantar saja.”

Titipan dari Australi! Ini pasti bantuan dalam jumlah besar berupa apa saja: selimut, bahan pakaian, makanan, obat-obatan, terkadang juga uang dalam bentuk transfer valuta. Tetapi saya bisa berbuat apa jika Mas Pras tak ada di tempat?

”Kalau bermaksud mengantar titipan, silakan saja,” saran saya. ”Kalian tinggal di mana? Tahu enggak alamat rumah Pak Pras?”

”Sejak tadi kami sudah di sini Pak, di luar pagar halaman rumahnya. Bapak sendiri siapa?”

”Saya adiknya!”

Saya bukan adiknya. Hanya karena pertimbangan keamanan, saya tidak mengaku tamu. Namun saya baru sadar, Ambar adalah perempaun muda bersepeda yang dari tadi mondar-mandir bersama si anak muda di luar sana. Tetapi saya mendadak curiga, jangan-jangan mereka pembohong, tukang todong yang berniat menyikat harta benda Mas Pras. Saya mulai merasa curiga pada Yu Dar, jangan-jangan perempuan itu kaki tangan si tukang todong, memberi mereka informasi bahwa rumah ini sedang ditinggalkan pemiliknya.

Kriminalitas memang sangat meningkat ketika kesengsaraan menimpa warga daerah ini sejak terjadi gempa. Manusia ternyata mampu melakukan apa saja demi kelangsungan hidupnya, termasuk menyikat harta benda sesamanya. Bahkan melakukan kekerasan dan pembunuhan, di mana perlu. Saya merasa bertanggung jawab atas keamanan rumah ini. Bodoh sekali jika saya biarkan Ambar masuk ke rumah ini bersama komplotannya. Jadi, saya bilang sebaiknya mereka menunda niatnya sampai Mas Pras pulang.

Cepat-cepat saya letakkan ponsel tanpa menunggu jawaban si anak Gama. Tetapi tak sampai semenit saya menjulurkan kaki di atas sofa, tiba-tiba ponsel yang bawel itu merengek lagi, berkali-kali. Jengkel rasanya meladeninya! Agaknya perempuan itu berkeras kepala mau terus bicara. Cepat-cepat saya angkat kembali ponsel.

”Saya sudah bilang lain kali saja, jangan sekarang! Tunda dulu hingga Pak Prasetya datang!”

”Lho Dik, ada apa?”

Saya kaget. Ternyata bukan suara Ambar singgah di telinga saya, tapi suara Mas Pras sendiri!

”O maaf Mas, maaf, saya kira…”

”Sudah tidur Dik? Ngelindur?”

”Belum, lagi nongkrong di depan televisi. Barusan ada yang nelepon, bilang mengantar seorang relawan. Dari Australi Mas! Ada titipan untuk Mas Pras.”

”Siapa dia?”

”Ambar. Dia bilang anak Gama. Saya tidak kenal. Malam-malam begini saya tidak meladeni.”

”Ambar, Dik? Dia memang pernah menelepon saya. Kalau menelepon lagi, beritahukan saja esok siang saya sudah pulang dan mereka bisa ketemu saya. Cucu saya masih di rumah sakit. Sudah agak baikan, tapi istri saya belum tega meninggalkannya. Gitu saja ya…”

Cepat-cepat ponsel saya letakkan lagi, lalu lari keluar dengan maksud mengejar Ambar. Mereka memang keras kepala, tak setapak jua beranjak dari sisi pagar besi yang terkunci sejak sore. Akhirnya mereka saya persilahkan masuk.

***

Ryan mengaku relawan dari tim bantuan rekonstruksi Australia yang membangun pompa-pompa air di sekitar tenda-tenda penampungan korban gempa yang tersebar di banyak desa. Namun agaknya mereka tidak bawa apa-apa kecuali sebuah map yang diletakkan Ryan di atas meja. Saya tanya apakah ada pesan yang perlu disampaikan. Si anak Gama membantu menjawab pertanyaan saya, ”Tidak Pak, dia akan datang ke sini lagi setelah tugasnya selesai. Dia ingin ketemu ayah-ibunya.”

Ayah-ibunya? Siapa ayah-ibunya? Di mana? Apakah mereka relawan juga? Atau wisatawan, barangkali? Beberapa pertanyaan tiba-tiba bermunculan di kepala saya. Pertanyaan yang saya karang-karang sendiri lalu saya jawab-jawab sendiri. Dan akhirnya saya cuma menyanggupi menyampaikan keinginannya kepada Mas Pras setelah beliau datang esok harinya.

Ryan sedikit sekali mengerti bahasa Indonesia. Beberapa kalimat singkat yang terucap dari mulutnya memberi kesan dia tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan hanya sepotong-sepotong mengucapkannya. Barangkali dipungut dari mulut anak-anak Gama yang sembarangan saja mengucapkannya. Saya coba bertanya, titipan apa yang ingin dia tinggalkan buat Mas Pras. Jawabnya keluar dari mulut Ambar. Sambil meletakkan mapnya di atas meja, perempuan itu bilang, ”Inilah Pak. Buka saja jika Bapak mau baca isinya. Bagi Ryan bukan rahasia. Semuanya berupa foto kopi. Bukan aslinya.”

Di depan mereka tentu saja saya segan menuruti saran Ambar. Namun, sesudah mereka pergi, saya tak bisa menahan diri. Saya benar-benar membuka mapnya dan membaca beberapa lembar kopi dokumen di dalamnya. Ya Allah, saya tiba-tiba merasa berdosa karena tahu seluruh isinya. Memang bukan surat tertutup, tetapi map ini berisi lembaran-lembaran Din-A4 berupa dokumen pribadi yang tak seharusnya saya ketahui, kecuali atas perkenan Mas Pras.

Si anak muda bernama Rianta, lahir 15 Maret 1966 di Dusun T, sebuah desa di wilayah Bantul, sekarang statusnya kabupaten.

Kecurigaan saya kian memuncak, karena si anak muda itu bernama Rianta. Ya Allah, ampunilah dosa saya jika dugaan itu keliru! Tetapi lampiran kedua ternyata berupa selembar foto kopi sebuah dokumen dengan tanda tangan ibu angkatnya: Nyonya Elvira McLane. Perempuan itu memanggilnya Ryan. Anehnya, pada meterai dokumen itu tampak cap jempol perempuan dengan tinta warna jingga ditandai nama Darmini. Entah apa sebabnya, tapi nama ini mengingatkan saya pada Yu Dar. Perhatian saya lalu tertuju pada sebuah tanda tangan lain di bawahnya, bertitimangsa Muntilan, 23 Desember 1969. Hampir-hampir saya tidak percaya ketika membaca nama lengkapnya: Prasetya Oetama.

Setiap kali merenungi cap jempol Darmini dan tanda tangan Mas Pras itu, kecurigaan saya kian memuncak, jangan-jangan si anak muda itu lahir berkat hubungan gelap antara keduanya, dulu, likuran tahun yang lalu. Ya Allah, ampunilah dosa saya jika dugaan saya itu keliru! Tetapi tanda tangan seorang pastur selaku saksi, lengkap dengan stempel Kotapraja Salatiga, membuat saya tak ragu lagi: kesimpulan itu tidak keliru.

***

Mas Pras memang tak bisa terlalu lama meninggalkan keteringnya. Esok harinya beliau pulang bersama Yu Dar, tetapi tanpa Yu Karsi, karena beliau tak tega meninggalkan cucu yang sedang parah menderita demam berdarah.

”Rianta cari ayah-ibunya ya Dik?”

Saya kaget mendengar pertanyaan Mas Pras. Terasa muka saya merah padam tetapi mulut saya bungkam. Takut dikira sudah baca isi mapnya.

”Ambar bilang apa?” peras Mas Pras.

”Rianta cari ayah-ibunya.”

”Dik, saya sendiri tak tahu siapa ayah-ibunya. Tapi saya juga ayahnya. Anak saya banyak, Dik. Di Muntilan saja puluhan. Saya ikut menampung mereka di gereja. Anak-anak orang tahanan, Dik. Mereka keleleran di jalanan.”

***

Hari ini saya tak ingat lagi kalimat Ryan selengkapnya. Namun ketika Ambar menelepon, saya tahu pasti, pengakuan itu bukan orang lain yang mengucapkannya melainkan Ryan sendiri, ”They are my parents.”

Benar atau tidak, saya tidak tahu. Tapi Rianta alias Ryan, percaya Mrs McLane hanya ibu angkatnya. Selebihnya bukan urusan saya.***

Paran, Januari 2010

*) Soeprijadi Tomodihardjo, cerpenis yang tinggal di Jerman

Sabtu, 17 Desember 2011

Malina dalam Bus Tua - Yetti A.KA

Malina belum menentukan ke mana ia akan pergi ketika ia menumpang bus tua. Dia hanya tahu bus itu akan keluar dari kota kecil tempat ia tinggal, dan itu pula tujuannya.

Ada beberapa kursi kosong. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir, dekat jendela yang terbuka. Kursi di sampingnya belum terisi. Udara cukup dingin, digesernya kaca jendela sampai rapat. Tas warna hitam yang mengembung ia letakkan di antara kedua kaki.


Wajah cekung dan bibir kering tanpa pemerah menambah getir penampilannya. Apalagi ia sama sekali tidak tersenyum pada siapa atau apa pun. Sesekali ia semburkan napas keras-keras, amat disengaja. Seseorang di depannya kadang menoleh. Mungkin terganggu. Mungkin penasaran. Ia tidak hirau. Wajahnya ia tempelkan dengan ketat ke kaca jendela. Kalau ada orang di jalan yang memerhatikan, mukanya pasti mirip kaleng penyok.

Di luar Malina melihat sawah, sedang hijau-hijaunya. Burung-burung kecil hinggap dan terbang. Sebagian sawah yang lain, yang letaknya jauh ke dalam, mulai menguning. Ia bayangkan di sana pasti lebih banyak burung-burung kecil, dan petani pasti pula sangat sibuk menghalaunya agar menjauh. Sawah dan burung-burung kecil itu membuat ia rindu pada kakek dan nenek di kampung. Mereka sudah tua tapi tetap ingin pergi ke sawah. Di sanalah mereka benar-benar dapat bahagia. Memang begitu jiwa seorang petani, kata ibunya memberinya pengertian bila ia –ketika itu ia masih kecil– bertanya kenapa kakek dan nenek tidak kerasan tinggal bersama mereka di kota.

Apakah itu artinya kakek dan nenek bisa bermain lumpur seumur hidup mereka? Itu pertanyaan lain yang mendekam di kepala Malina, namun tak mampu ia sampaikan pada orang tuanya. Anak kecil tidak boleh terlampau ingin tahu semuanya, begitu pendapat orang dewasa.

Ia hanya merasa alangkah senang kakek dan neneknya itu. Bermain kotor dan tidak ada yang melarang (sesungguhnya ini bukan semata-mata masalah boleh bermain kotor atau tidak, tapi tentang kebebasan yang diidamkan semua anak kecil).

Bus berhenti. Tubuh Malina terlonjak ke depan. Ia menarik tasnya yang sedikit bergeser. Seseorang naik dan menempati kursi di sampingnya. Anak laki-laki sepuluh tahunan dengan seragam pramuka yang lengkap. Seragam yang dulu amat disukainya karena ia mengira sangat keren dengan rok warna coklat pekat. Berjam-jam ia akan berdiri di depan cermin, mematut-matut penampilannya, sampai ibunya ngomel-ngomel.

Anak lelaki di sampingnya menguap. Ia perhatikan wajah itu tampak berat. Wajah cemberut yang menahan beban. Mungkinkah ia habis dimarahi? Bisa pula ia sedang malas sekolah tapi dipaksa untuk tidak membolos oleh ibunya. Jangan-jangan ia tengah ketakutan karena lupa membuat PR dan akibat dari itu ia pasti mendapat hukuman berdiri di halaman sekolah sampai jam pelajaran berakhir.

Buru-buru Malina mengatakan pada dirinya agar berhenti memikirkan masalah di luar kehidupannya. Hidupnya sendiri sudah terlampau rumit. Sekarang ia sedang menjauhi kerumitan itu. Ia ingin memisahkan diri. Namun dalam bahasa orang-orang di sekelilingnya, ia sedang ingin lari. Mau dibantah percuma. Maka ia benarkan pendapat itu dengan keputusan yang membuatnya berada dalam bus tua –tempat ia bertemu segala macam kejorokan yang dulu mungkin saja tidak terbayangkan bisa sedekat ini.

Dalam bus tua, Malina meremas jemarinya seperti remaja yang baru saja melompat dari jendela kamar dan menemukan ruang kosong yang terlalu lebar. Ia mengalami euphoria yang justru membuatnya kebingungan akan melangkah ke mana.

***

Tahun-tahun terakhir, rasanya, ia hampir tidak punya momentum untuk berkata-kata, tertawa, berpikir, mengkhayal, membuat puisi, membaca, menulis surat, menelepon teman semasa kuliah, mengadakan perjalanan, menonton film, kopi darat dengan kenalan baru, menghadiri peluncuran buku, atau menghabiskan waktu yang sifatnya lebih personal dan tentu menyenangkan untuk dirinya.

***

Kini bus tua membawa Malina makin jauh dari rumahnya. Rumah bercat putih bersih yang menunjukkan betapa angkuh pemiliknya. Apalagi dengan model pagar yang terlampau tinggi dan gembok besar yang selalu terpasang. Di rumah itu ia meninggalkan anak perempuan tiga tahun yang belum pernah berpisah sekali saja dengannya.

Menangiskah ia? bisik Malina kalut. Memang ia sudah menyiapkan semua kebutuhan anak itu. Termasuk catatan mengenai berapa botol susu yang harus diberikan atau berapa kali anak itu makan nasi atau buah dalam sehari. Tidak lupa ia juga meninggalkan nomor telepon dokter anak langganannya. Untuk berjaga-jaga kalau anaknya terserang pilek di musim yang tidak tentu ini.

Ia tahu suaminya belum pernah mengurus anak seorang diri, tapi ia percaya semua akan baik-baik saja. Bukankah dulu ia tidak tahu apa-apa tentang bayi sampai kemudian ia sudah menjalani peran sebagai ibu selama ini. Kalau ia bisa melewatinya, tak ada alasan untuk tak percaya pada suaminya. Lagi pula suaminya bisa minta bantuan pembantu jika diperlukan, walau selama ini mereka jarang menyerahkan hal-hal yang mereka anggap bisa dikerjakan sendiri, apalagi urusan anak, pada orang lain.

***

Bus kembali berhenti. Malina menegakkan wajahnya. Ternyata anak di sampingnya yang turun. Malina tidak mendengar anak itu minta bus berhenti. Malina menggigit bibir. Ia melamun jauh sekali rupanya. Ia menoleh lagi keluar jendela. Bukan lagi sawah, melainkan semak sepanjang jalan. Semak itu berbunga ungu. Baru sekali ini ia melihat semak berbunga ungu dalam jumlah yang banyak, memenuhi pinggir jalan, hingga menyerupai karpet yang sangat panjang.

Buru-buru Malina menyadari bahwa anak yang duduk di sampingnya tidak turun di depan sebuah sekolah atau suatu perkampungan. Anak itu benar-benar tidak ingin ke sekolah, dan ia akan bersembunyi di daerah yang penuh semak begini, pikir Malina dengan kening berkerut.

Malina memilih melupakan soal anak itu. Ia bersikeras pada dirinya, kalau itu bukan urusan penting yang mesti ia tanggapi dengan serius.

Bus berjalan lagi, kali ini cukup kencang dan tergesa. Malina segera tahu ada bus lain di belakang bus yang ia tumpangi. Kejar-kejaran pun berlangsung seru, dan itu membuat sejumlah penumpang menahan napas atau menjerit kecil.

Tidak ada yang harus ia sesali dari kepergian yang telah ia pilih hingga ia ditakdirkan berada di dalam bus tua yang bahkan besi-besinya telah rongsok dan sopir yang ugal-ugalan. Benar ia sangat sebal pada sopir itu. Namun saat tahu penampilan sopir itu ternyata amat miris, Malina tidak tega melanjutkan rasa sebalnya. Ah, bus tua dan sopir yang bahkan rambutnya sekusam debu.

Debu?

***

”Aku menyukai debu,” kata Malina pada suatu hari (ketika itu, membicarakan debu, bagi Malina, serasa menyusun krisan putih di jambangan).

”Kenapa kau menyukainya?” tanya pacarnya.

”Aku suka baunya yang harum.”

Pacar Malina geleng-geleng kepala.

”Apa kau pernah mencium debu?” Malina memandang pacarnya.

”Aku pasti bersin-bersin jika melakukan itu. Hidungku sangat sensitive.”

Malina tenggelam dengan perasaannya, ”Ternyata kau tak suka debu.”

”Tidak ada orang yang suka debu selain kamu.” Pacar Malina tertawa seakan ia sedang melontarkan kalimat paling jenaka.

Berhari-hari Malina ingat pernyataan pacarnya tentang hidungnya yang suka bersin bila bersentuhan dengan debu. Lelaki yang tidak asyik, simpul Malina sangat kecewa.

Dan dengan lelaki yang tidak asyik itulah ia justru menikah lima tahun lalu. Lelaki yang mengajarinya menjadi tukang bersih-bersih; dari gorden, lantai, dinding, keramik, koleksi botol parfum, sofa, dan masih banyak lainnya. Bertahun-tahun. Padahal ia senang membiarkan kotor itu tetap menempel. Ia bisa membauinya, meresapi. Ia bosan, dari kecil mendengar teriakan orang-orang saat ia lupa memakai sandal atau lupa mencuci tangan sebelum mengambil sekeping biskuit. Kenapa sih orang dewasa, saat itu, tak sedikit pun memberinya pilihan untuk menyukai tanah atau debu di jejarinya.

Kotor adalah kebebasan. Bersih adalah keterikatan. Ia memilih kotor. Apa yang kaucari Malina? tanya suaminya tadi malam. Selama ini kau berbohong dan pura-pura bahagia menjadi bagian dari kami?

Kau pasti tahu bukan itu yang kumaksudkan.

Itu kenyataan yang kami rasakan.

Kau seharusnya mengerti perasaanku, keinginanku. Aku tak bermaksud merusak apa-apa. Aku cuma butuh sendiri, melakukan sesuatu yang kusukai sekali waktu. Semacam kebebasan. Tanpa kamu. Tanpa anak kita. Tanpa namamu di belakang namaku. Tanpa rutinitas ibu rumah tangga yang menjemukan. Tanpa catatan belanja yang mesti kulaporkan tiap minggu padamu. Tanpa tatapan pembantu yang telah kau sogok untuk mengawasiku. Tanpa orang tua yang masih saja merasa berhak mengatur kehidupan kita seakan kita belum cukup mampu untuk membuat keputusan sendiri.

Kau menyakiti kami. Kau benar-benar menyakiti kami.

Itu tidak benar.

Kau bahkan tak tahu dadaku begitu remuk, Malina

Ternyata kau tidak mengerti sedikit pun. Bukan. Bukan itu yang kuinginkan. Aku butuh sendirian dan itu berbeda dengan keinginan menyakiti orang lain. Berbeda sekali. Sayang, kau tak paham.

***

Ini memang tidak sederhana, kemam Malina, sekali lagi, bukan masalah bersih atau kotor semata. Namun ini tentang dirinya yang ingin berkata-kata, tertawa, berpikir, mengkhayal, membuat puisi, membaca, menulis surat, menelepon teman semasa kuliah, mengadakan perjalanan, menonton film, kopi darat dengan kenalan baru, menghadiri peluncuran buku, atau menghabiskan waktu yang sifatnya lebih personal dan tentu menyenangkan untuk dirinya.

Aku tak memiliki keyakinan kau bisa memberiku kesempatan untuk itu jika kau sama sekali tidak paham meski aku sudah berkali-kali mengatakannya, Malina memejamkan matanya.

Lalu di sinilah aku, masih dalam bus tua dengan bunyi mesin yang meraung-raung. Aku punya perasaan kalau bus yang kutumpangi akan membawaku ke suatu tempat yang sangat jauh, tempat di mana aku akan melepaskan segala yang melekat di kehidupanku. Ini mungkin sebuah dosa, pengingkaran paling jahat. Hanya saja, sejak saat ini, aku akan berhenti salah tingkah seolah-olah aku baru saja mencuri sesuatu dari rumah orang lain. Aku kini memiliki tubuhku sendiri.

Malina menggosok matanya, dan punggung tangannya sedikit basah.

***

Bus tua menyusuri jalan yang terus menanjak. Jalan yang makin lama makin sempit. Semak-semak juga makin sesak di kanan kiri jalan. Rupanya bus ini menuju ke puncak bukit. Malina melihat ke sekelilingnya. Ia tercengang. Dia penumpang satu-satunya yang belum turun. Tidak sedikit pun ia ingat, di titik mana saja bus ini berhenti dan menurunkan penumpangnya.

Malina berdiri sambil berpegangan pada sandaran kursi. Hati-hati ia bergerak ke depan, ke arah sopir yang berambut sekusam debu. Tepat di belakang sopir itu, ia bertanya dengan suara yang sengaja dikeraskan: Di mana tempat perhentian terakhir bus ini.

Bus mendadak berhenti. Malina hampir saja tersungkur ke depan dan ia bersungut-sungut. Sopir bus membalikkan badannya, menatap Malina dingin, sembari menjawab: Di neraka.

Seketika tubuh Malina limbung. Mata sopir bus itu sama persis dengan mata suaminya.***

Jogjakarta, 29 Maret 2010

Suara Serak di Seberang Radio - Zelfeni Wimra

Menjelang tengah malam di pondok perebus air nira, udara dingin akan mengalah pada nyala api di tungku. Selain rungut sekawanan kera mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar. Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.

Akan terdengar decak kunyahnya; nikmat seruputan di rahangnya. Aduhai, sembari menunggu gelegak tengguli sempurna menjadi gula merah, Yarman menaruh radio itu di atas lututnya dan mengasyiki tombol pencari gelombang. Sambil duduk menyandar ke dinding bambu, kepalanya menggeleng ritmis.

Tubuhnya terasa begitu ringan mendengar cuap-cuap penyiar acara Kotak Pos membacakan kartu dari sejumlah pendengar setia penjuru Nusantara. Sebelum sebuah lagu kenangan diputar, suara serak milik penyiar acara itu adalah suara yang dinanti-nanti Yarman. Dirinya seperti seorang yang menunggu kehadiran, mungkin seorang sahabat, atau bahkan kekasih. Satu dua isapan linting daun enau berdesis dari bibirnya. Tidak ada yang akan tahu, kalau di dalam racikan tembakau yang dilintingnya dengan daun enau itu dibubuhi sedikit daun ganja betina. Razia ganja mana pula pernah sampai ke pondoknya yang terpencil di hulu Batangmaek.

Sebelum sebuah lagu selesai, Yarman akan menghayati aneka bayangan yang melintas di alam hayalnya. Suatu saat, Ratna, si penyiar acara Kotak Pos itu akan dicarinya. Yarman membayangkan, ia bertemu Ratna di sebuah halte saat hujan deras turun. Ia berharap Ratna tak membawa payung, sehingga mereka punya banyak waktu untuk bercakap-cakap.

Dan hujan akan ia seru untuk tidak berhenti. Saat itulah, kepada Ratna akan diceritakannya perihal hujan yang sudah bertahun menyiksa hatinya. Hulu Batangmaek, bukit paling sepi dari bujuran Bukitbarisan, telah memaku takdirnya, sehingga tak sempat menyampaikan demikian banyak keinginannya sebagai laki-laki. Ada sebuah keinginan yang tidak dapat tidak akan diwujudkannya juga. Sebelum mata hidupnya ditutup dan keinginannya yang banyak menyatu dengan angin dingin Batangmaek.

Akan dipaparkannya, betapa setiap kali ingat Ratna, ia selalu membuka tempat khusus di jantungnya, sebuah lorong dengan bangku yang banyak. Di tiap bangku itu ada adegan cerita tentang dia dan Ratna yang akan berjumpa entah kapan. Pada bangku paling ujung, ada gambar yang selalu membuat jantung Yarman melambung-lambung. Terlihat samar, di tengah hujan yang tak kunjung reda, kepala Ratna jatuh ke bahu Yarman. Tapi, wajah Ratna tidak begitu jelas. Kalau sudah sampai di situ, lamunan Yarman akan buyar. Ia akan ditimbun pertanyaan, seperti apa gerangan rupa perempuan bersuara serak itu? Pertanyaan inilah yang telah membuat Yarman seperti ikan termakan umpan.

Terutama ketika Selasa malam beranjak jadi Rabu, saat hari pekan benderang, di mana ia akan pergi ke pasar menjual gula merah. Uangnya akan ia jadikan ongkos pergi ke kantor pos di Suliki. Sebelum itu ia akan singgah dulu di Sialang, perkampungan pinggir Batang Sinamar, tempat para pandai batu akik bertempat tinggal. Ia telah memesan batu giok yang diikat dengan sebuah cincin bermotif rencong wajik. Bila sudah waktunya dan cincin itu sudah selesai, akan dibawanya ke Padang. Salah seorang kenalannya, Syaiful, penadah barang-barang bekas di Padang sudah disuratinya. Tinggal menunggu balasan, apakah ia bersedia mengantar menemui penyiar bersuara serak itu.

Bertahun sudah Yarman menjadi penggemar acara Kotak Pos yang diasuhnya. Selama itu pula Yarman menyisakan uang hasil menjual gula enaunya untuk ditabung. Ya, pada waktunya ia akan ke Padang, merencanakan pertemuan dengan Ratna.

Demi keinginannya yang satu ini, seminggu sekali, ia sengaja pergi ke kantor pos membeli kartu, perangko, dan beberapa buah amplop. Kadang ia mendapat tumpangan sepeda motor oleh kenalannya yang kebetulan lewat ke arah Suliki, tempat yang ia tuju. Tapi lebih sering ia naik bus tiga-perempat yang pengap. Ikut berdesakan dengan pedagang sayur dan sejumlah orang kampung yang akan pergi belanja ke Payakumbuh.

Kartu yang dibelinya seminggu sebelumnya sudah ditulisi dan segera ia poskan. Sedangkan kartu pos yang akan dibelinya untuk persiapan minggu berikutnya.

***

Semula, kartu pos itu hanya puluhan. Pelahan, beranjak jadi ratusan. Hingga kini sudah ribuan. Dari sebanyak itu, ada satu kartu yang selalu ingin ditandai Ratna. Kartu pos yang dikirim oleh salah seorang penggemar acara yang diasuhnya, bernama Yarman.

Di kamarnya yang wangi, di laci meja kerja, Ratna menyimpan kartu pos kiriman Yarman yang tak pernah ia bacakan pada acara Kotak Pos itu. Terbayang olehnya, jika suatu ketika ia diberi waktu yang lapang, ia ingin sekali berlibur ke Kototinggi, kampung Yarman, si pengirim kartu. Semula Ratna hanya menganggap cara Yarman sebagai tingkah iseng seorang penggemar saja. Namun, setelah bulan-bulan berganti tahun, ia selalu menerima kartu pos dari Yarman. Lama-kelamaan Ratna justru jadi terbiasa bahkan tergantung pada cara Yarman yang unik. Kini, penasaran telah menumpuk dalam kepala Ratna. Tulisan-tulisan Yarman dalam kartu pos itu telah menggodanya untuk paling tidak sekali saja berkunjung ke ceruk Bukitbarisan yang disebut-sebut Yarman sebagai tempat paling sepi bagi seorang bujang.

Ratna selalu menerima kartu pos dari Yarman sebanyak dua lembar. Satu untuk dibacakan, satu lagi berisi tulisan Yarman yang ditujukan kepada Ratna. Ada yang berupa cerita singkat tentang udara perbukitan di Kototinggi yang sejuk. Sejumlah lembah, tempat yang sejak dahulu sering jadi tempat persembunyian para pemberontak. Dari sana, ada jalan setapak yang tembus ke Bonjol. Di sana, dulu, Belanda menugaskan tentara mengawal para penambang emas.

Ada pula yang berbentuk puisi: ungkapkan ketakjuban Yarman mendengar suara Ratna ketika siaran. Tentang betapa ia suatu saat akan menaklukkan waktu, keluar dari kesibukannya sebagai petani nira dan bergabung dengan kesibukan kota. Satu yang pasti, ia akan ke Padang mencari Ratna. Katanya, bertemu dengan Ratna adalah obat dari sakit sepi yang bertahun diidapnya.

***

Yarman menyetel gelombang radionya dari berita ke lagu dangdut. Dari lagu dangdut ke lagu pop. Tapi, masih ada yang terasa belum sempurna. Sudah tiga minggu acara Kotak Pos yang ditunggu-tunggunya tidak disiarkan. Ini minggu keempat. Yarman tak habis bertanya, kenapa acara Kotak Pos tidak ada lagi? Jelas saja, ada yang hilang. Tidak ada lagi suara serak Ratna. Cerita dan kiriman salam dari sahabat-sahabatnya yang jauh seakan raib dimakan angin yang berkisar di Bukitbarisan. Yarman berpikir, jika selamanya begini, hal yang mesti ia persiapkan adalah mendamaikan gejolak keinginannya berangkat ke Padang. Jika acara Kotak Pos tidak ada lagi, pertemuan dengan Ratna tidak akan lebih dari kesiur mimpi yang konyol? Yarman merasakan dirinya sangat bodoh.

Ketakutan Yarman terjadi juga. Acara Kotak Pos sudah ditiadakan pihak radio. Penggemar acara ini makin sedikit. Orang-orang kini malas ke kantor pos. Orang-orang lebih suka mengirim pesan singkat melalui telepon genggam. Yarman menggigil ketika pemberitahuan tentang peniadaan acara Kotak Pos diumumkan. Penyiarnya dipindahkan ke program lain.

Meski masih bisa mendengar suara Ratna, kadang membaca berita, kadang mengiringi pemutaran lagu-lagu melayu, Yarman merasakan ada yang terputus antara dia dan Ratna. Ratna tidak lagi menyebut namanya. Ratna kini telah sombong.

Ia coba juga mengusir kegaduhan di pikirannya dengan mengisap lintingan daun enau yang sudah dibubuhi daun ganja betina seperti biasa ia lakukan di kesendiriannya. Sisa kartu pos yang sudah dibelinya ia tulisi dengan kalimat-kalimat aneh. Ada yang bernada kecaman pada waktu dan keadaan. Ada pula tentang rasa ngilu yang menusuk-nusuk sanubarinya setiap mendengar suara Ratna yang telah mengacuhkannya. Pada sebuah kartu pos yang bermotif kembang, ia tulis keluhannya tentang pergunjingan orang-orang kampung yang penasaran, mengapa di usia yang mendekati empat puluh, ia belum juga beristri. Dan pada kartu pos yang terakhir, ia tulisi tentang tekadnya untuk ke Padang. Jika pun bukan untuk menemui Ratna, ia akan mencoba bekerja.

***

Pada edaran waktu yang sama, sepuluh bulan kemudian, di Padang, sekitar dua ratus kilometer dari Batangmaek, peristiwa yang lain terjadi. Ratna mondar-mandir di dalam kamarnya yang wangi. Kartu pos kiriman Yarman yang disimpannya dalam laci meja tidak ada lagi. Ia sudah membongkar hingga ke balik lemari, siapa tahu ia sempat memindahkannya, atau tanpa sengaja terjatuh dan terselip di sana. Sejak delapan bulan menikah ia telah mengubah tata letak kamarnya. Barang-barang suaminya yang pegawai kantor pos lumayan banyak, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi kamar.

Saat ia terpaksa jongkok memeriksa lemari, suaminya datang dengan mimik penuh perhatian.

”Sayang, jangan jongkok begitu. Kandunganmu bisa terganggu. Mencari apa? Sini, uda bantu,” bapak janin dalam kandungan Ratna itu meraih bahu Ratna dan mengajaknya berdiri.

”Koleksi kartu pos Ratna hilang. Padahal itu kiriman dari sahabat terbaik Ratna…” Tampak sesal di wajah Ratna.

”Sayang. Maaf, ya, kemarin uda membereskan arsip-arsip untuk disimpan di gudang. Termasuk kartu-kartu pos itu. Sudah, lupakan saja. Sekarang kita istirahat, yuk. Besok kita cari. Sudah malam,” lelaki berkumis itu mendengus saat memeluk Ratna dari belakang. Ia sangat mengerti, sejak hamil, Ratna sering berlaku aneh, manja, dan banyak kehendaknya.

Kemarin itu, ia ingat kalau tak lama lagi anak pertamanya akan lahir. Maka itu ia sengaja menata kamar tersebut menjadi lebih lapang. Ia kumpulkan seluruh arsip dan menjualnya ke pemulung kertas yang sering berkeliling dengan becak di kompleks perumahan. Karena tidak mau istrinya kecewa, ia berbohong dengan mengatakan kartu itu masuk ke dalam tumpukan arsip di gudang. Tapi raut wajah Ratna terpana, tidak lega. Bulatan matanya berputar-putar dan kerut antara dua alisnya begitu jelas.

Pikiran Ratna tetap tak beralih dari kartu-kartu pos yang ingin dibacanya. Malam itu juga ia minta suaminya mengambil kartu-kartu itu kembali dari gudang. Tetap saja, suaminya berkilah, kalau sudah larut malam dan sebaiknya kartu-kartu itu dicari esok hari saja. Ratna sebenarnya tidak bisa menerima. Tapi, apa boleh buat, ia sadar, harus lebih mengutamakan kandungan dan memilih untuk istirahat.

***

Pada malam yang sama, di salah satu sudut Kota Padang yang mulai hening, Yarman menekuri dirinya. Ia rasakan betapa waktu memang tajam. Sejak acara Kotak Pos ditiadakan, ia telah kehilangan tempat berhibur. Hari-hari terasa melilitnya seperti jaring jala mengurung ikan. Semangat bekerjanya pun seakan tersedot oleh tenaga yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana. Satu hal yang sangat ia sadari, kalau pikirannya tetap tersangkut pada kartu-kartu pos yang tidak lagi pernah ia kirim. Juga tentang Ratna yang telah sombong.

Namun setelah seminggu di Padang, ia belum juga bisa mewujudkan keinginannya itu. Tinggal bersama sahabatnya, Syaiful, mengantarkan kesadarannya kepada hal yang lain. Melihat sahabatnya itu bekerja sebagai penadah barang-barang bekas, nyalinya untuk ikut membantu seketika bangkit. Semula, ia sengaja meninggalkan batang-batang enau dan pondok ladang dengan radio National dua band yang selalu tergantung di tiang itu, demi keinginan bertemu Ratna. Kini, terlintas di pikiran untuk ikut membantu Syaiful, sekaligus mencoba mengais rezeki sekadar untuk biaya hidup selama di Padang. Keinginan bertemu Ratna sengaja ia tekan. Ia tahan. Dan, jika dapat, akan ia lupakan.

Ya, malam yang sama, di saat Ratna sudah tertidur di sisi suaminya, Yarman tersandar di tumpukan kertas di gudang penyimpanan Syaiful, mematut-matut cincin permata giok bermotif rencong wajik yang sudah lama diniatkan sebagai hadiah untuk Ratna. Sejak datang di Padang, Yarman memang sering termenung di situ, sebelum kantuk tiba dan merebahkan badan di atas busa yang tidak jauh dari tumpukan kertas itu.

Entah mengapa pula, Yarman merasa nyaman meringkuk di atara tumpukan kertas bekas itu. Dirinya seolah ditimbun cerita-cerita yang tersimpan di dalam aksara yang tertulis di sana.

Di remang cahaya lampu, ia periksa beberapa lembar kertas yang terserak begitu saja ke lantai. Ia bolak-balik satu-dua lembar. Jantungnya mendingin. Ngilu. Jemarinya menangkap selembar kartu pos. Ia dekatkan ke arah lampu. Antara percaya dan tidak percaya, ia ambil dan periksa lembar-lembar yang lain.

Tidak salah lagi, kartu-kartu pos itu adalah kartu-kartu yang dulu pernah dikirimnya untuk acara Kotak Pos yang diasuh Ratna. Duh! Ia kumpulkan semua. Ia bawa ke tempat ia biasa tidur. Napasnya memburu. Tak sabar menunggu siang tiba. Sebab, ada sakit di jantungnya. Bila matahari sudah terbit esok hari, ia akan pamit pada Syaiful. Ia akan pulang, kembali ke Kototinggi membawa kartu-kartu pos itu.

Barangkali, bila ada kesempatan, kartu-kartu pos itu akan ia kirim lagi ke radio tempat Ratna bekerja, sekalipun acara Kotak Pos sudah tidak ada dan suara serak Ratna hanya terdengar pada acara yang lain. Atau, bila tidak ada lagi kesempatan, kartu-kartu itu, juga cincin permata giok itu, akan disimpannya sendiri, mungkin di pondoknya, diikatkan pada radio National dua band kesayangannya. ***

Sungai Naniang-Padang, 2009-2010

*) Zelfeni Wimra, lahir di Sungainaniang, Luak Limopuluah Koto, Minangkabau, 26 Oktober 1979. Sutradara Teater Cabang, juga bergiat di Magistra Indonesia dan C2RS. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit Pengantin Subuh (2009)

Ranggalawe Gugur - Gunawan Maryanto

Bukan kematian benar menusuk kalbu


Keridlaanmu menerima segala tiba


Tak kutahu setinggi itu atas debu


dan duka maha tuan bertakhta1



Di atas panggung, beberapa kotak yang disembunyikan begitu saja di balik kain hitam, Ranggalawe gugur. Tujuh bidadari tua mengelilingi tubuhnya yang tegak berdiri -bahkan kematian tak mampu merubuhkannya. Mereka melempari tubuh yang mematung itu dengan bunga. Hanya angin malam yang sanggup menyaksikannya. Angin yang sejak 10 tahun yang lalu menggerakkan rombongan itu dari satu lapangan ke lapangan yang lain. Dari satu kesepian menuju kesepian berikutnya. Dan malam itu selesailah semuanya. Angin tak sanggup lagi menggerakkan mereka menuju pemberhentian berikutnya. Lalu angin pelan-pelan mati. Dan tak mampu menggerakkan dirinya sendiri.

”Malam ini adalah pertunjukan terakhir kami. Tak ada lagi yang menginginkan kehadiran kami. Tak ada lagi yang menyaksikan kami. Kami tak punya alasan lagi untuk berlama-lama di sini.” Seseorang gendut berkaos hitam membuka acara. Di belakangnya berjajar para aktor mengenakan kostumnya masing-masing. Wajah-wajah yang tak bahagia telah disembunyikan sejak sore tadi di balik bedak. Kakek-kakek di balik wajah Menak Jingga yang merah mencoba berdiri tegak. Ranggalawe yang berdiri di sampingnya demikian pula. Sebentar lagi mereka akan bertarung untuk terakhir kalinya.

Lalu pertunjukan pun dimulai setelah beberapa orang naik ke panggung untuk menyampaikan simpati -sejumlah puisi. Mereka berduka atas kematian dan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas kematian ini? Malam itu tak sebagaimana biasanya, mereka meninggalkan tobongnya -tobong yang sesungguhnya telah lama kosong. Kain-kain dekorasi mereka pasang di beberapa penjuru, layar-layar yang sudah tak sanggup menggambarkan apa-apa. Mereka telah lama kehilangan warna. Serupa bendera-bendera kematian. Gerbang tobong juga mereka pasang sebagai penanda merekalah satu-satunya rombongan ketoprak tobong yang tersisa.

Ratu Kencana Wungu duduk di atas singgasananya. Kursi kayu bercat merah yang terlambat dibawa masuk ke panggung. Kelihatan karena tak ada layar untuk menutup pergantian. Semuanya diputuskan untuk dibuka malam itu. Termasuk kegagalan mereka untuk bertahan sebagai seniman. Kencana Wungu lantas menembang menyapa yang datang. Patih Logender duduk di hadapannya, manggut-manggut menerima kenyataan bahwa suara Kencana Wungu terlalu lirih untuk sebuah pertunjukan di tengah lapang. Yang riuh rendah oleh suara kendaraan dan pasangan-pasangan muda yang pacaran di atas sepeda panjang. Rarasati si Patih Dalam tak kebagian kursi. Ia berdiri saja di samping Kencana Wungu. Sementara para ksatria duduk di bawah, bersesakan dan saling menutupi: Layang Seta, Layang Kumitir, Menak Koncar, dan beberapa prajurit tanpa nama alias bala depak yang senantiasa terdepak. Panggung sudah terlalu sempit untuk menampung tubuh-tubuh mereka. Negeri dalam keadaan baik-baik saja, demikianlah yang kutangkap samar-samar dari percakapan mereka. Rakyat hidup makmur kerta raharja. Tak kurang suatu apa. Mereka tampak gembira dengan sandiwara itu. Bercakap-cakap diselingi canda dan tawa. Patih Logender memamerkan kesaktian sepasang anaknya, Seta dan Kumitir. Hanya Adipati Tuban, Ranggalawe, yang tak kelihatan batang hidungnya. Adipati paling sakti itu konon sedang bertapa di rumahnya. Mungkin pula tak punya ongkos berangkat ke Majapahit. Bisa saja.

Kulihat ke belakang. Cukup banyak juga yang datang. Orang-orang yang sekadar lewat. Atau sejumlah orang yang melayat. Kabar kematian kelompok ini memang sudah disebar di koran-koran dan facebook. Seorang anak kecil yang duduk di belakangku bertanya pada bapaknya. Itu apa? Ketoprak, jawab bapaknya. Lalu Menak Jingga di samping panggung memukul kepraknya. Rupanya malam itu ia merangkap sebagai dalang sekaligus tukang keprak. Bunyi keprak itu membangunkan Angkat Buta yang sejak awal tiduran di belakang gamelan. Ia pun bergegas masuk ke dalam panggung untuk menyampaikan pesan junjungannya, Menak Jingga. Si Adipati buruk rupa itu menagih janji sang Ratu Ayu. Dulu semasa ia masih bernama Jaka Umbaran yang berwajah tampan ia pernah dijanjikan untuk mendapatkan Kencana Wungu jika berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, pemberontak yang sakti mandraguna. Sang pemberontak berhasil dikalahkan, tapi Jaka Umbaran terpaksa pulang dengan wajah dan tubuh babak belur. Jika tak ada Dayun yang menolong mungkin ia sudah lama mati.

Rarasati merobek-robek surat itu. Layang Seta dan Layang Kumitir tanpa perintah selain karena pongah menghajar utusan dari Blambangan itu. Angkat Buta berlari ke alun-alun. Angkat Buta selalu menantinya di sana selama bertahun-tahun. Perang tak terhindarkan. Gantian para bala dupak mendapatkan ruang. Dengan gagah berani mereka berperang. Melakukan adegan-adegan berbahaya. Beberapa kali mereka terlontar ke luar panggung. Terkapar di tanah lapang lalu dengan cepat bangun lagi mengejar sang lawan. Ada juga prajurit yang kedua tangannya buntung. Ialah yang paling kerap terlontar keluar panggung. Penonton terbahak dan bersorak meski adegan perkelahian ini sama sekali tak menawan. Ada pula yang malah jatuh kasihan.

Bisa ditebak, mereka telah mengulanginya beratus kali, Layang Seta dan Layang Kumitir kalah. Logender menolongnya dan membiarkan utusan-utusan Blambangan itu pulang.

Di Lumajang enam perempuan menari-nari. Menari sejadi-jadinya.

Mas mas mas aja diplerok (Mas mas mas jangan dipelototin)


Mas mas mas aja dipoyoki (Mas mas mas jangan digodain)


Karepku njaluk diesemi 2 (Pinginnya minta disenyumin)

Ruang pecah berkeping-keping. Mereka menyebar ke segenap penjuru membawa piring. Mendatangi penonton satu per satu, menjual cendera mata: gantungan kunci bertuliskan Ketoprak is the place where we live and where we die… berlatar orang sendirian mendirikan atap tobong di langit yang biru cerah. Mereka terus beredar dalam kegelapan. Ada pula yang membawa bonang dan meminta uang. Lagu berlanjut. Apa saja yang penting berirama dangdut. Beberapa penonton naik ke panggung dan bergoyang. Lalu lampu tiba-tiba mati. Gamelan terus dibunyikan. Lagu terus dinyanyikan. Beberapa orang tampak sibuk mencari kesalahan. Menyusuri kabel demi kabel. Memeriksa bensin di dalam generator. Berkali-kali mereka pernah mengalaminya, mengulang kesalahan-kesalahan yang sama. Berkali-kali mereka ngebut di jalanan masih dengan pakaian wayang untuk membeli bensin agar pertunjukan tetap bisa dilanjutkan. Alhamdulillah, lampu mati tak lama. Lampu yang semenjana itu menyala kembali. Perempuan-perempuan itu sudah kembali ke panggung dan menjadi istri-istri dari Adipati Menak Koncar. Lalu adegan domestik di tengah lapangan, bocor-bocor tak karuan. Percakapan yang lamat-lamat itu terus berlangsung hingga Menak Jingga menabuh keprak untuk menandai kedatangannya sendiri. Ia masuk ditemani Dayun, abdinya yang setia.

Menak Koncar menyambutnya dengan hangat meski tahu tak berapa lama lagi mereka akan bertengkar dan ia akan kehilangan Mentarwati, istrinya yang pertama. Pertengkaran dimulai ketika Menak Jingga meminta bantuan Menak Koncar untuk mengawinkannya dengan Kencana Wungu. Menak Koncar meledak marah. Ia tak sanggup membayangkan ratunya yang jelita bersanding dengan manusia buruk rupa. Mentarwati bersedia mencarikan jodoh untuk Menak Jingga. Tapi Menak Jingga keras kepala. Sambil menyembah-nyembah kaki Mentarwati, Menak Jingga terus menyebut-nyebut nama Kencana Wungu. Mentarwati sebal dan memukul kepala Menak Jingga. Pertarungan kembali terjadi di atas panggung sempit itu. Kali ini yang tampil adalah prajurit-prajurit perempuan. Dengan gerak yang luar biasa kikuk -jangan dibayangkan pertarungan antara Lasmini versus Mantili dalam film Saur Sepuh- mereka saling pukul dan tusuk. Penonton yang jumlahnya sudah jauh berkurang kembali terbangun. Bertepuk tangan menyemangati pertempuran prajurit Lumajang dan Blambangan. Pertempuran itu berakhir dengan tewasnya Mentarwati. Menak Jingga menusuk tubuh perempuan itu berali-kali dengan kerisnya. Menak Koncar datang terlambat. Ia hanya mendapati tubuh istrinya yang dingin dan berlumuran darah. Ia menangis dan pelan-pelan mengangkat tubuh istrinya. Adegan yang direncanakan dramatis itu hancur berantakan. Menak Koncar ternyata tak kuat membopong tubuh perempuan itu. Makan nasi sehari sekali dengan selingan mie instan ternyata membuat Adipati Lumajang itu kekurangan tenaga. Tak ada yang datang membantunya. Penonton kembali bersorak. Mereka menyemangati Menak Koncar dengan tepuk tangan. Akhirnya dengan susah payah, juga didorong rasa malu, ia berhasil membawa istrinya keluar panggung. Dan buru-buru dijatuhkannya begitu sampai di tepian panggung.

Lalu lagu gembira mencoba membangkitkan suasana. Gending Badutan Sragen: Rewel. Omonga terus terang yen pancen kowe bosen. Ora perlu kakehan alasan… (Bicaralah terus terang jika kamu bosan. Tidak perlu banyak alasan…)

Seorang pelawak masuk ke panggung dan me­nari sekenanya. Ia pelawak karena kumisnya mirip Hitler. Entah sejak kapan pelawak-pelawak kita memakai kumis macam itu. Mungkin sejak mereka menonton Charlie Chaplin. Mungkin pula suatu kali seorang pelawak pendahulu secara tak sengaja mengusapkan jelaga di atas bibirnya. Lalu dua kawannya datang menyusul. Penonton menanti kelucuan apa yang akan mereka munculkan. Tapi tak ada. Mereka sudah terlalu lelah untuk mencari bahan lawakan. Mereka hanya bercanda tentang lapar. Mereka pura-pura makan sampai kenyang. Mereka memesan makanan-makanan terenak yang mereka impikan. Dua bungkus rokok dilemparkan kepada mereka. Seorang pelawak pun turun ke panggung, memungutnya. Ia melempar satu bungkus ke arah para penabuh gamelan. Di tengah mereka berkhayal makan sate kambing datang seorang penonton memberi amplop. Minta lagu Prau Layar, katanya. Am­plop itu pun dibuka. Berisi duit yang langsung me­reka hitung satu per satu. Lembaran-lembaran uang berwarna merah itu berjumlah tujuh lembar. Semua orang bertepuk tangan. Mungkin itu adalah saweran paling banyak yang pernah mereka dapatkan. Sayang mereka mendapatkannya di pertunjukan terakhirnya.

Malam ini mungkin mereka akan mendapat lebih dari 2.000 rupiah per orang, tidak seperti malam-malam biasanya. Mereka memanggil juragan mereka naik ke atas panggung. Sang juragan, lekaki berkaos hitam yang tadi membuka acara mengucapkan terima kasih atas bentuk simpati tersebut. Dan ia pun menyanyikan Caping Gunung karya maestro keroncong Gesang yang baru saja meninggal dunia. Para pelawak mengingatkan bahwa mereka seharusnya menyanyi Prau Layar. Tapi lelaki itu mungkin tak mendengarnya. Ia menyanyi Caping Gunung. Ia meminta para pelawak menari. Tapi tak ada yang menari. Setelah lagu selesai kembali ia mengulang kata pamitnya. Malam ini kami pamit mati. Seperti syair sebuah lagu, katanya. Lilanana pamit mulih… (Relakanlah aku pamit pulang…)

Lilanana pamit mulih (Relakan aku pamit)


Pesti kula yen dudu jodhone (Aku memang bukan jodohmu)


Muga enggal antuk sulih (Semoga segera mendapat ganti)


Wong sing bisa ngladeni slirane (Orang yang bisa mendampingimu)


Pancen abor jroning ati (Memang berat rasanya)


Ninggal ndika wong sing ndak tresnani (Meninggalkan orang yang kucintai)


Nanging badhe kados pundi (Tapi mau bagaimana lagi)


Yen kawula saderma nglampahi3 (Aku cuma sekadar melakoni)

Lelaki itu kemudian memanggil seorang tamu yang datang dari Jakarta. Seorang aktivis perempuan yang cantik. Ia meminta perempuan itu menyampaikan orasinya. Sang perempuan dengan berapi-api mengutuk kematian-kematian seni tradisi. Ia menyalahkan masyarakat yang tak lagi menghargainya. Ia menyalahkan pemerintah yang tak pernah merawatnya. Ia menyalahkan organ dangdut yang mematikan sawah para seniman tradisi. Lalu ia turun dan pertunjukan kembali berlangsung.

Malam sudah larut. Sebagian besar penonton sudah pulang. Sudah larut malam pula di Kadipaten Tuban. Sang Adipati Ranggalawe tengah bercakap-cakap dengan istrinya. Ia merisaukan keadaan Majapahit yang tak lagi tentram. Percakapan tampak dipercepat. Mungkin karena penonton yang semakin sedikit. Ranggalawe buru-buru ke sanggar pamujan. Berdoa dan membakar kemenyan. Ia bersila membelakangi penonton. Sebuah tembang palaran mengalun keras dari mulutnya. Menak Koncar datang menemuinya. Melaporkan kebrutalan Menak Jingga yang makin menjadi-jadi. Menak Koncar menangisi kematian istrinya, menangisi Lumajang yang sudah berada di genggaman Menak Jingga. Bergetar dada Ranggalawe mendengar tangisan Menak Koncar, kemenakannya. Segera ia memanggil Wangsapati ajudannya. ”Ambil Payung Tunggul Naga, malam ini aku akan berangkat ke Lumajang!”

Adegan pertemuan Ranggalawe dan Menak Jingga segera disusun. Menak Jingga menyambut kedatangan Ranggalawe dengan baik. Ia menghaturkan hormat pada orang yang paling disegani di Majapahit itu. Ranggalawe dengan tenang mendengarkan kisah Menak Jingga. Ia bisa mengerti perasaan Menak Jingga yang kecewa karena ditolak oleh Ratu Kencana Wungu. Dalam hal ini ia menyalahkan Kencana Wungu yang mengingkari janjinya. Tapi ia juga mengutuk Menak Jingga yang telah membuat huru-hara di Majapahit. Maka, dengan segala hormat ia minta Menak Jingga menghentikan pemberontakannya. Menak Jingga menggelengkan kepalanya. Ia meminta maaf tak bisa menghentikan semuanya. Maka keduanya pun berhadapan.

Tak ada yang bisa menandingi kesaktian Ranggalawe selama Payung Tunggul Naga tetap memayunginya. Menak Jingga yang terdesak segera menghujani Wangsapati si pembawa payung dengan panahnya. Pengawal nahas itu pun terjungkal dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya. Ranggalawe terus maju. Ia tak peduli dengan apa-apa lagi. Kematian Wangsapati begitu melukai hatinya. Dengan cepat ia berhasil menangkap Menak Jingga. Ia injak kepala adipati yang berwarna merah itu. Menak Jingga tak bisa bergerak sama sekali. Ia bahkan harus merelakan Gada Wesi Kuning andalannya direbut oleh Ranggalawe. Tetapi saat Ranggalawe mengangkat gada itu tiba-tiba tubuhnya kaku. Ia mati. Tubuhnya tanpa Payung Tunggul Naga adalah tubuh paling lemah yang pernah ada. Ia kehilangan nyawa karena mengangkat Gada Wesi Kuning. Bidadari-bidadari dengan rambut panjang terurai segera berlari mengelilinginya. Menak Jingga me­me­rintahkan agar tubuh pahlawan itu dibawa pulang ke Blambangan. ”Makamkan ia dengan upacara kehormatan!”

Pertunjukan selesai. Pertunjukan terkahir mereka. Dengan cepat mereka mengemasi barang-barangnya dan pulang. Aku juga. Malam menunjuk pukul 12 tepat. Di jalan aku berpapasan lagi dengan mereka. Ranggalawe berjalan sendirian lengkap dengan pakaian kebesarannya. Beberapa pemain lain menyusul di belakangnya. Aku tak tahu ke mana mereka akan pulang malam ini. Tobong yang sudah 10 tahun mereka diami telah mengusir mereka. ***

2010

(End notes)


1 Nisan, puisi karya Chairil Anwar, 1941


2 Aja Dipleroki, lagu karya Ki Nartosabdho


3 Pamitan, lagu karya Gesang, 1940

Anak-anak Masa Lalu - Damhuri Muhammad

BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus dimaklumatkan?

Maka, dengan segelimang gamang yang tak ditampakkan, mengendap-endaplah bocah-bocah kerempeng itu, tepat pada waktu terlarang. Mula-mula, sayup-sayup terdengar jerit dan rintih anak-anak seusia mereka, bagai sedang didera rasa sakit yang tak tertanggungkan. Seiring rembang petang, makin terang kedengarannya, hingga mereka memercayai suara gaib yang membuat bulu kuduk meremang itu berasal dari lantai Jembatan Sinamar. Menimbang keriuhan yang kian meninggi, rasa-rasanya asal jerit-rintih itu bukan dari satu orang, mungkin dua atau tiga. Lalu, di benak mereka, terbayang jasad anak-anak yang terjepit dalam jejaring beton bertulang. Mereka lekas berbalik, lari pontang-panting, seperti benar-benar sedang diburu hantu petang hari.

Dua hari selepas petang itu, Tongkin turun tangan. Sebab, Alimba, salah satu dari gerombolan anak-anak pelanggar pantang itu kesurupan. Ia mencak-mencak, lalu membanting barang-barang pecah-belah di rumahnya. Beling dari piring yang berserak di lantai, satu per satu ia kunyah, seperti mengunyah keripik singkong, hingga berderuk-deruk di tenggorokannya. Lantaran tingkah Alimba makin liar, dua penambang pasir Sungai Sinamar meringkusnya, hingga ia menghentak-hentak sambil mengeluarkan pekik yang membuat pedih gendang telinga. Tongkin, dukun pilih tanding, mengerahkan segenap kesaktian, guna merenggut makhluk halus itu dari jasad Alimba.

”Rumahku di sini, di kampung ini, bukan di Jembatan Sinamar!” ancam Alimba, dengan tatap bengis.

Tongkin tak peduli gertakan itu. Mulutnya terus komat-kamit, melafalkan mantra-mantra.

”Kau tak akan sanggup mengusirku,” bentaknya lagi.

Sesaat Tongkin mundur, ia memperkokoh posisi duduknya. Rupanya ia sedang berhadapan dengan lawan bersengat.

”Siapa kau sebenarnya?” tanya Tongkin dengan napas terengah-engah.

”Jangan pura-pura tidak tahu! Aku salah satu dari tiga anak yang kepalanya dibenamkan di lantai Jembatan Sinamar.”

Orang-orang terperangah. Tongkin menghela napas dalam-dalam. Tak biasanya, roh jahat yang merasuk ke dalam tubuh kasar mengungkap asal-muasalnya. Sesaat kemudian, Alimba tumbang, lalu pingsan.

***

Dulu, bila ada yang kesurupan, Tongkin selalu berkilah bahwa makhluk halus yang merasuk hanyalah penghuni Sungai Sinamar yang terusik sejak pembangunan jembatan. Namun, setelah Alimba kerasukan, rahasia Jembatan Sinamar mulai tersingkap. Tongkin membenarkan bahwa riwayat usang tentang pemenggal kepala bukan cerita bohong. Kekejaman pemenggal kepala yang telah menjadi kabar petakut di Kampung Subarang, ternyata bukan sekadar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak malas yang lebih banyak bermain gundu ketimbang membantu orang tua di ladang. Mulai dari ibu-bapak Alimba, tetangga-tetangga dekat hingga tersiar ke seluruh penjuru kampung, Tongkin membeberkan bahwa jika Jembatan Sinamar hanya dipancangkan dengan beton-beton bertulang, menimbang usianya yang sudah uzur, tentu sudah rubuh. Namun, tiga kepala yang dibenamkan bersama adukan cor, telah membuatnya bagai tiada pernah lekang dimakan usia. Saat gempa dahsyat memporak-porandakan rumah-rumah warga Kampung Subarang, Jembatan Sinamar jangankan runtuh, terguncang pun tidak. Tiang-tiangnya masih menancap kokoh, apalagi lantainya, meski setiap hari truk pasir bermuatan sarat lalu-lalang melintasinya. Dan, itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Di masa lalu, Kampung Subarang pernah gempar lantaran kehilangan tiga bocah laki-laki, sepulang menonton pacuan sapi, tak jauh dari tepian Sungai Sinamar. Mereka dikabarkan hanyut saat menyeberangi sungai itu. Begitu hasil penerawangan batin para dukun yang melacak keberadaan mereka. Berhari-hari Sungai Sinamar diselami, dari hilir hingga hulu, tapi mayat mereka tak ditemukan. Setelah semua daya-upaya dilakukan, akhirnya ketiga orang tua anak-anak yang hilang tak jelas rimbanya itu memercayai bahwa mereka telah diculik orang bunian. Tidak meninggal sebagaimana yang diperkirakan, tapi mustahil kembali, karena mereka sudah terhisap ke dalam alam halus. Orang-orang Subarang merelakan tiga bocah itu menjadi anak-anak masa lalu yang tak pernah lagi diungkit-ungkit riwayatnya.

Padahal, mereka tergoda oleh iming-iming dua lelaki asing namun berperawakan ramah dan baik hati. Mereka dibujuk dengan ajakan menonton pertunjukan kelompok sirkus yang waktu itu sedang manggung di kota kabupaten. Dua lelaki itu mengendarai mobil bak, dan sudah pasti mereka akan dibolehkan bergelantungan di mobil itu. Pengalaman yang mahal untuk ukuran anak-anak Kampung Subarang masa itu.

Namun, sebelum sampai di kota, di sebuah tempat lengang, mobil tiba-tiba berhenti. Salah satu dari dua lelaki asing turun, mendekati tiga bocah yang sedang asyik bergelantungan.

”Sebelum masuk ke arena sirkus, kalian harus pakai ini,” katanya, sembari membagikan topi warna hijau.

Sekilas topi itu mirip lackpet yang biasa dipakai tentara zaman dulu. Bila cuaca dingin, dua sisi bawahnya dapat dikancingkan di dagu. Sementara di sisi belakang, yang bersentuhan langsung dengan kuduk, menyembul dua ujung kawat halus sepanjang empat senti. Kawat baja itu tersembunyi di dalam kain yang akan melingkari leher.

”Arena sirkus akan ramai pengunjung. Topi itu memudahkan kami mencari kalian, begitu pertunjukan usai.”

”Bila tidak, kalian bisa hilang dalam keramaian.”

Mereka bergegas menyarungkan topi di kepala masing-masing, dan memasang kancing di bawah dagu. Ada yang berdetak di kuduk, bunyinya seperti gembok yang terkunci, hingga leher mereka bagai tercekik. Anak-anak yang telah masuk perangkap diminta turun. Mereka tidak membantah lantaran tenggorokan yang tersekat, sementara topi tidak bisa dibuka lagi. Dengan posisi menyilang dua lelaki itu menyentakkan kawat baja di kuduk anak-anak itu. Seketika kepala mereka lepas dari badan. Nyaris tak ada pekikan. Penyembelihan yang dingin. Lebih lekas dari menggorok leher sapi. Tiga topi berisi kepala menggelinding di dalam mobil bak, segera diserahkan kepada pimpinan proyek pembangunan Jembatan Sinamar.

***

Setelah meraih gelar insinyur dengan predikat cum laude dari sebuah universitas ternama di Jawa, belasan tahun lalu, Alimba memang belum pernah pulang. Namun, sosoknya seumpama layang-layang yang sedang tegak-tinggi tali. Jauh, namun tampak dekat. Dekat, tapi tampak jauh. Selalu ada yang berkabar bahwa di tanah Jawa, insinyur Alimba, telah menjadi pemborong besar, utamanya dalam proyek pembangunan jembatan layang. Kualitas konstruksi yang dikerjakan oleh perusahaan milik Alimba telah teruji. Tiga dari lima tender proyek jembatan layang selalu dimenangkan PT Sinamar Jaya Karya. Tak terbayangkan, Alimba bocah kerempeng dari Kampung Subarang, terlahir dari keluarga susah, kini menjadi kontraktor dengan reputasi tak tertandingi, bahkan konstruksi jembatan karya para insinyur tamatan luar negeri tak sanggup mengimbangi karya-karyanya.

Kalaupun ada kelemahan Alimba, itu hanya soal suara-suara gaib yang menyeruak dari setiap jembatan yang pernah dibangunnya. Tepat di saat bertimbang-terimanya ashar dan magrib, akan terdengar jerit dan rintih anak-anak yang seolah-olah sedang terjepit di dalam jejaring beton bertulang. Siapa yang melintas pada waktu terlarang itu, bakal celaka. Bila tidak tabrakan beruntun, setidaknya kendaraan terguling lantaran kecepatan yang tak terkendali. Sejauh ini sudah tak terhitung jumlah korbannya.

”Pasti ada yang tidak beres! Mesti diungkap. Bila kita tidak ingin terus kalah tender,” begitu sinisme seorang pesaing Alimba.

”Bagaimana cara membuktikan setan-setan jembatan itu?” tanya anak buahnya.

”Alimba terlalu kuat. Sekuat konstruksi jembatan hasil karyanya.”

”Ah, apalah guna mutu, bila setiap bulan selalu menagih darah?”

***

Bila di masa lalu, Subarang heboh karena kehilangan tiga bocah laki-laki yang telah direlakan menjadi anak-anak masa lalu, kini kampung itu kembali gempar setelah TV dan koran-koran menayangkan kabar tentang seorang kontraktor proyek jembatan layang yang diduga sebagai otak di balik penemuan potongan-potongan tubuh mayat yang belakangan ini telah meresahkan. Dikabarkan, buronan bernama Alimba itu telah membenamkan ratusan butir kepala anak-anak jalanan di dalam jejaring beton bertulang, sebagai tumbal demi kekokohan konstruksi setiap jembatan yang dibangunnya. Orang-orang suruhan Alimba berkhianat, dan menyebarkan jasad-jasad tanpa kepala di setiap penjuru kota, hingga reputasi PT Sinamar Jaya Karya tak terselamatkan.

Dari kejauhan, orang-orang Subarang berdoa semoga Alimba, si pemenggal kepala, beroleh tempat bersembunyi yang tidak bakal terlacak siapa pun. Betapapun sadisnya perbuatan Alimba, ia telah menghidupi anak-anak muda yang dulu hanya pemadat jalan di Kampung Subarang, kini menjadi orang-orang yang beruntung di perantauan. Alimba menampung dan mempekerjakan mereka.

”Ini salah Tongkin,” umpat salah seorang tetua Kampung Subarang.

”Tongkin sudah mati. Ia jangan dibawa-bawa!”

”Bukankah Tongkin yang membeberkan cerita tentang pemenggal kepala, dan Alimba mengambil pelajaran dari situ?”

Daruih, dukun muda pewaris kesaktian Tongkin, menyanggah. Baginya, kabar yang telah menjadi aib Kampung Subarang bukan salah Tongkin, bukan pula Alimba, tapi ulah salah seorang dari anak-anak masa lalu, tumbal Jembatan Sinamar. Arwah yang pernah merasuki Alimba semasa kanak-kanak tak sungguh-sungguh pergi, hingga kini bahkan masih bersarang di tubuh insinyur hebat itu. Ia melunaskan dendam lewat tangan Alimba…

cahaya titis, 2010

Tangga Cahaya - Yanusa Nugroho

DI mataku, bumi dan langit dihubungkan dengan begitu banyak tangga. Hanya tangga, terbuat dari -entah apa bahannya– namun, sesuai dengan pengetahuanku, rasanya, mirip cahaya. Ya, cahaya. Agar mudah otakmu menerima gambaran yang kuberikan, maka, mungkin aku menyebutnya seperti cahaya neon (meskipun, menurutku, itu masih jauh dari apa yang kusaksikan ini).

Untuk mudahnya, maka kuberi nama saja itu tangga cahaya neon. Hanya saja, jika lampu neon itu menggunakan tabung, ini tidak. Hanya cahaya saja berpendar indah, berwarna-warni. Sungguh, seandainya saja kau bisa menyaksikannya, maka kau akan berjingkrak-jingkrak, atau malah terbengong-bengong, karena matamu menyaksikan pemandangan menakjubkan. Mungkin yang paling menakjubkan sejak kau mampu menikmati dunia ini.

Tetapi, sebentar, Kawan. Aku tak punya kekuatan yang mungkin bisa sedikit membantu orang lain, termasuk dirimu, untuk melihat apa yang kusaksikan. Jangankan kekuatan yang kuberikan, sedangkan aku sendiri saja tak tahu apakah ini sebuah kekuatan atau keanehan.

***

Sebentar, sebelum terlalu jauh aku meracau soal tangga ini, ada baiknya kau tahu sedikit ihwal semua ini.

Awalnya, seingatku, aku sakit keras. Mula-mula panas dan dingin menyerangku habis-habisan. Istriku mengira aku kena DB, lalu ketika dibawa ke dokter, dokter mengatakan gejala tipus. Lantas, ada seorang kawan membelikanku vermint, kapsul cacing tanah yang dikeringkan. Sembuh. Maksudku sejak kutelan obat itu, panasku berangsur-angsur turun, nafsu makanku meningkat, kemudian berkeringat dan tubuhku segar kembali.

Akan tetapi, baru kusadari beberapa saat kemudian, ada yang berubah dengan mataku; maksudku, pandanganku. Saat itu, aku dikunjungi Haji Beni, sahabatku. Dia berkunjung karena mendengar aku sakit panas. Dia orang baik, sangat baik, malah. Aku menjulukinya dengan sebutan saudara kembarnya Mas Danarto, yang seniman itu. Julukanku beralasan karena, baik gestur, wajah, maupun tutur sapanya, beda-beda tipis dengan Mas Danarto. Ketika kujuluki demikian, Beni tertawa saja, karena dia sendiri tidak kenal dengan Mas Danarto. Dia hanya berkomentar bahwa dia senang disamakan dengan seniman; dan bukan koruptor. Ah, Haji Beni…

Ketika mengunjungiku, waktu itu, wajahnya agak pucat. ”Capek, kurang tidur,” begitu jawabnya ketika kutanya. Namun, yang membuatku ternganga adalah kilasan-kilasan cahaya putih berpendar-pendar di atas kepalanya. Semula aku mengira lantaran mataku memang masih sulit menerima cahaya siang yang menyilaukan. Tetapi, karena cahaya di atas kepala Haji Beni hanya menggelimang dan membentuk sesuatu, aku jadi mulai percaya bahwa mataku melihat sesuatu.

Seminggu sejak kunjungannya, Haji Beni meninggal. Aku takziah di pagi hari itu. Ketika kira-kira 50 meter dari rumahnya, aku tertegun. Kusaksikan sebuah tangga cahaya bersinar lebih putih dan lebih berkilau daripada cahaya matahari, memancar dari atap rumah Haji Beni, lurus menembus awan dan… aku tak tahu di mana tangga itu berakhir. Orang-orang yang sudah lebih dulu hadir di sana sempat menyaksikan kecanggunganku, lalu menggamitku menuju jenazah Haji Beni dibaringkan. Aku duduk di samping jenazah sahabatku sambil memanjatkan doa. Dia orang baik. Wajah, dan sekujur tubuhnya memancarkan cahaya, dan rupanya dari situlah tangga cahaya yang kusaksikan di luar tadi itu, bermula.

***

Sejak itu, aku jadi sering menyaksikan tangga-tangga cahaya. Dan sejak saat itu, manakala aku melihat ada kelebatan-kelebatan cahaya di atas kepala seseorang, maka bisa kupastikan, tak lama lagi orang tersebut akan dipanggil Tuhan.

Maaf, bukan maksudku menakut-nakutimu. Sama sekali tidak. Dan pengetahuan semacam ini bisa kuperoleh, juga bukan karena mauku, apalagi cita-citaku. Untuk apa? Aku tiba-tiba diberi kemampuan melihat sesuatu yang biasanya tak kasat mata, dan aku tak mampu menolaknya. Entahlah, aku sendiri sering menyesal mengapa menceritakan peristiwa ini kepada orang lain. Karena sejak pertama kali kukisahkan penglihatanku ini kepada orang lain, tidak satu pun yang percaya. Kalau kau pun tak percaya, aku paham sepenuhnya.

***

Seperti kataku tadi, bumi dan langit di mataku memang dihubungkan dengan begitu banyak tangga cahaya, cahaya neon tanpa tabung. Bersembulan, timbul tenggelam, berpendaran siang malam, mengantarkan orang-orang baik kembali kepada Tuhan. Sungguh, ketika kupandangi itu semua, tak terasa air mataku meleleh. Keangkuhanku cair oleh keagungan luar biasa yang dipertunjukkan Tuhan kepadaku. Hanya saja, aku tak bisa begitu saja mengatakan dan menggambarkannya kepada siapa pun. Aku hanya bisa menunjukkan beberapa bagian saja, yang mungkin memiliki ”kata” sebagai wakilnya. Dan ”kata”’, sungguh bukan sesuatu yang benar-benar mampu mewakilinya, aku tahu itu.

***

Suatu kali, entah berapa waktu silam, aku diminta untuk datang ke rumah seseorang.

”Untuk apa, ya?”

”Begini. Saya hanya diminta untuk menjemput Bapak, soal ada kepentingan apa, saya tidak tahu,” ucapnya dingin, tetapi memaksa itu.

Kupandangi beberapa saat beberapa laki-laki berambut ijuk pendek dan bertubuh karang itu.

”Tapi… malam-malam begini?”

”Ini penting, maaf, saya hanya diperintah begitu.”

Hmm.. kata ”diperintah” ini yang membuatku gelisah. Aku paling tidak menyukai manusia yang hanya menjalankan perintah, tanpa tahu maksud tindakannya.

Dan beberapa saat kemudian, mataku menangkap kilatan-kilatan cahaya merah, seperti cahaya laser pointer, berkitar-kitar gelisah di atas kepala para lelaki itu.

Wajah mereka pun kelihatan menegang. Mungkinkah cahaya itu menandakan akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan, bahkan membahayakan mereka jika ”perintah” itu gagal dilaksanakan?

Dugaanku benar. Ketika aku sudah berada di rumah si ”pemerintah” yang minta ampun besar dan luasnya itu, kilatan-kilatan laser di kepala manusia karang itu lenyap. Bahkan yang tadi berkata dingin dan agak memaksa kepadaku itu, kini dengan keramahan yang kaku menawariku mau minum apa.

”Saya dengar Anda bisa meramalkan kematian?” begitu ucapan berat si pemilik rumah besar itu, begitu para lelaki karang itu meninggalkan ruangan.

”Yang bilang begitu siapa, Pak?”

”Lho, jadi untuk apa saya undang Anda malam ini…”

”Yaa… maaf, Pak. Izinkan saya pulang, kalau begitu.”

”Hahahaha…nanti dulu, sabar, saya bercanda, kok, hahahahaha…”

Kusaksikan seorang Farao merentangkan tangannya, menunggu tundukan kepala budak-budaknya. Aku tak tahu mengapa langkahku sampai di istana Firaun ini?

”Begini. Yang saya dengar, Anda bisa melihat tanda-tanda kematian seseorang. Betul?”

”Bapak mendengar dari siapa?”

”Tak ada asap jika tak ada api.”

Aku terdiam. Apa maunya? Dan karena aku terdiam, dia kemudian mulai berceloteh tentang hidup dan mati menurut keyakinannya. Aku sendiri tak yakin soal apa yang disebutnya keyakinan itu. Aku hanya melihat manusia gunung karang yang merasa sudah mampu menyundul awan karena ketinggiannya. Aku pun mulai diserang rasa mual, mendengar bualan manusia ini.

”Anda pernah mendengar Wahyu Cakraningrat, kan?”

Kutatap saja wajahnya yang di mataku kian tampak tolol itu. Kisah pewayangan itu tentu saja kuhafal luar kepala, karena aku sering nonton wayang kulit di masa kecilku.

”Siapa yang mendapatkan wahyu itu, kok, saya lupa.. Mmm…siapa, siapa?” tanyanya sambil memejamkan mata sementara jari-jarinya menjentik-jentik ke arahku, memaksaku ikut berpikir.

”Abimanyu, anak Arjuna…’

”Yaaaa… Tapi itu di wayang, di zaman kita ini, Anda tahu kepada siapa?” ucapnya setengah berbisik dan mimiknya penuh kebanggaan.

Kau tahu jawaban yang diharapkannya muncul dari bibirku, kan? Mungkin jika kau ada di sana malam itu, tinjumu akan melayang ke wajahnya yang dungu itu.

”Tapi Abimanyu mati dengan tubuh terajam anak panah,” jawabku dingin.

Dia terdiam, mungkin tak menyangka bahwa kata-kata itulah yang muncul dari bibirku.

”Jadi, Anda memang bisa meramalkan kematian seseorang. Jadi…” setelah agak lama dia terdiam, ”seperti itukah kematian saya?”

Sungguh, aku berada di puncak mualku. Kepalaku berkunang-kunang, lantaran mendengar bualan terbesar yang pernah kudengar selama hidupku.

”Pak, saya tidak pernah bisa meramalkan kematian seseorang…”

”Bagaimana jika saya merencanakan membunuh seseorang, apakah Anda bisa melihat tanda-tanda kematian orang itu?”

”Pak, maaf, saya lelah. Saya minta izin pulang. Maaf.”

”Bukankah kematian memiliki tanda-tanda, sebagaimana sebuah kelahiran… Hah? hahahahahaaa…Dan dengan mengetahui tanda-tandanya, bukankah kita bisa memindahkan, bahkan menolak kematian itu, hah? Bagaimana? Hahahahahaha…”

***

Bulan Desember, angin mendesau-desau, terkadang membawa hujan bercampur panas. Seringkali pula panas berhujan deras. Di sebuah siaran televisi kusaksikan sebuah perkampungan dengan sekelompok orang, mungkin seratus jiwa, tengah gelisah. Mereka mempersenjatai diri dengan apa saja yang mereka punya. Rumah mereka akan digusur. Menurut berita, mereka sebetulnya penduduk liar yang menempati kawasan milik seseorang. Lahan seluas puluhan hektare milik seorang manusia? Di sisi lain, ratusan atau bahkan ribuan orang yang tak punya segenggam pun tanah? Mengapa ini yang kusaksikan?

Dan demi kusaksikan di televisi, siapa si pemilik lahan, mendadak mualku bangkit lagi. Nyaris aku muntah di ruangan. Gelak tawanya seakan kembali terdengar di antara wawancara yang menggebu-gebu, soal hak dan kewajiban, soal keadilan dan entah apalagi. Segera kuraih remote.

Tetapi, sesaat sebelum remote kutekan dan mencari saluran lain, mataku menangkap sesuatu.

Di kepala mereka, manusia yang tengah gelisah itu, ah… kilatan cahaya berwarna-warni mulai berpendar-pendar. Berkilauan cahaya-cahaya itu mengitari kepala mereka masing-masing, bahkan di atas kepala seorang bayi yang tengah menyusu.

Air mataku tak terbendung lagi. Kusaksikan langit malam yang terang benderang oleh tangga-tangga cahaya, meliuk-liuk lurus menuju langit, indah, agung, mempesona, memukau, menyihirku.

***

Sudahlah, di mataku, saat ini, bumi dan langit dihubungkan oleh tangga-tangga cahaya. Tangga cahaya yang mengantarkan jiwa-jiwa yang tenang kembali kepada sang Maha Pencipta. ***

Pinang, 982

*) Yanusa Nugroho , cerpenis tinggal di Jakarta

Hujan dan Cerah - Rindy Agassi

Awan hitam perlahan merangkak di langit, petir dan kilatan cahaya senantiasa menemani ke manapun awan hitam ini bergerak. Awan hitam di langit tiba-tiba mendadak diam, terlihat titik-titik air yang terjun bebas dari langit, titik-titik air yang semakin banyak dan akhirnya menyatu menjadi satu kesatuan yaitu hujan.

” Ayah! Hujannn…” Kepala mungil keluar dari jendela mobil dan melihat ke arah langit..
“Kepalanya jangan keluar nak, bahaya, ditutup jendelanya, biar tidak masuk airnya.”
“Koq bisa hujan ya yah?” Sang anak menoleh ke arah ayahnya begitu selesai menutup jendela.
“Ya bisa donk.” Ayah tertawa kecil.
“Ahhhhh..ayahhh..kenapa?kenapa?kenapa??” Rasa penasaran seorang anak kecil berusia setengah dasawarsa begitu menggebu-gebu.
Kali anak sang ayah hanya diam saja dan memperhatikan jalan. “Kenapa?kenapa yahh??” Tangan kecil sang anak menarik-narik kaos ayahnya.
“Ya bisa..Udah lah, kamu dari tadi berangkat sampai sekarang tu tanya-tanya terus, nggak capek kamu?”
Anak itu hanya diam, tetapi beberapa detik kemudian, “Itu kenapa yang situ langitnya nggak hitam??” Anak itu menunjuk ke arah langit.

Belum sempat dijawab suara petir tiba-tiba menggelegar di langit seakan membentak sang anak agar diam. Anak itu langsung menutup kedua telinganya dengan cepat.
“Yauda ayah jawab deh..” Mata sang ayah melihat ke arah anaknya dan tangannya membelai rambut panjang anaknya, rambut yang memperlihatkan kecantikan anaknya itu.
Tidak ada reaksi apa-apa dari anak itu, dia hanya diam saja dan melihat ke arah luar, melihat ke arah lampu lalu lintas yang berwarna merah terang. ” Jadi mau dijawab nggak?” Sontak pandangan sang anak berubah menuju ke ayahnya, “Iya jadi jadi…” Dengan penuh semangat.
Tawa kecil lah yang pertama muncul dari mulut sang ayah, anak itu hanya diam dan terus melihat ke arah ayahnya. Baru setelah itu kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah, “Begini anakkuu..Kenapa tempat yang mau kita tuju itu langitnya cerah..” Ayah sambil menunjuk ke arah langit sambil matanya melihat ke arah lampu lalu lintas, menunggu isyarat untuk kembali jalan.

Sang ayah kembali melanjutkan, “Dunia ini adil nakk.” Berhenti sebentar, tangan sang ayah mengganti gigi mobil dan mulai menjalankan pelan mobilnya karena mobil di depan sudah mulai menjauh.
Sang ayah kembali melanjutkan, “Dunia atau bumi ini adil nak, tau kalau kita mau ada outbond di sana jadi dibuat lah cerah tempat yang mau kita tuju..” Kembali tawa kecil keluar dari mulut ayah.Anak itu hanya diam dan tersenyum kecil.
” Ya walaupun terlihat tidak bagus langitnya, yang daerah sana cerah lalu yang daerah sini gelap tapi itu karena adil, tau mana yang butuh hujan tau mana yang tidak butuh hujan.” Dengan bijak dan percaya diri sang ayah menjawab.
Mata anak itu kembali melihat ke arah luar, melihat keadaan luar yang dibasahi air yang turun dari langit, “Ayah..ayah..berarti anak-anak itu lagi butuh hujan ya??tapi kan kasian mereka jadinya basah gitu..” Tangan mungil sang anak menunjuk ke arah kumpulan anak sekolah dasar yang berjalan pulang dibawah guyuran hujan yang deras.
Ayah diam saja, mencoba memutar otak untuk mencari pembenaran dari jawabannya tadi, dalam hati ayah berbicara “Wah kenapa tanya gitu? pintar juga anakku ini..” senyuman menghias wajah sang ayah.
Seakan tidak mau kalah dari anak kecil dan ingin terlihat pintar di depan anaknya, ayah kembali menjawab, ” Ya bukannya butuh, mereka ingin buru-buru pulang mungkin, sudah lah dunia itu adil, mereka mungkin aja butuh hujan itu..” Kembali tawa kecil terdengar dari mulut ayah.
“Ooooo..begitu ya..” Sang anak mengangguk-angguk, yakin dengan jawaban ayahnya.
Suasana menjadi hening, hanya suara hujan yang terdengar, suara yang tidak beraturan dan tidak bernada, suara yang muncul karena air turun di atas mobil.
“Wahhh..udah cerah ni yah..” Kembali sang anak mengoceh ketika melihat ke arah langit dan langit sudah cerah. Ayahnya hanya diam dan menganggukkan kepalanya
Sang anak kemudian melihat ke arah belakang, melihat ke arah jalan yang sudah dilaluinya. Terlihat daerah yang sudah dilewatinya masih ada awan hitam yang menyelimuti. Kepala anak itu kembali menoleh ke depan untuk melihat langit yang cerah, beberapa kali menoleh ke belakang dan ke depan untuk melihat ke arah langit, melihat perbedaan awan yang hitam dan putih cerah, membandingkan daerah yang dia lewati sekarang tidak hujan dengan daerah yang sudah dilewatinya masih turun hujan.
“Hebat juga ya yah bisa gini..” Anak itu terkagum-kagum sambil melihat dan menoleh berulang-ulang ke arah langit.
“Iyaa nak, adil yang pasti, kan kita mau outbond kan jadi ya harus cerah donk daerah kita.”
“tapi kalau di sana hujan terus ada yang mau outbond gimana? kan nggak adil yah.” Sang anak membandingkan dengan daerah yang baru dilewati.
“Tapi di sana kan tidak ada tempat outbond.” Sang ayah tertawa kecil dan sok tau agar sang anak tidak bertanya lagi.

Anak perempuan kecil dengan sejuta pertanyaan itu terlihat sangat menikmati perjalanannya, menikmati hujan dan menikmati cuaca cerah yang dia lalui sekaligus, terus mencoba untuk bertanya banyak hal kenapa terjadi perbedaan yang mencolok. Di satu daerah turun hujan lebat dan di daerah lain tidak turun hujan sama sekali, bahkan terlihat jelas perbedaannya jika melihat ke arah langit, awan hitam dan langit cerah biru terlihat kontras.

Raut wajah sang anak tiba-tiba terlihat serius, matanya menatap tajam ke arah luar. ” Ayah ayah…itu kenapa ada rumah yang jelek terus di depannya ada rumah yang bagus dan besar yah? biar adil ya yah itu??”
Sang ayah segera melihat ke arah rumah-rumah itu, mukanya juga berubah serius. Kembali anak itu bertanya, “Iya yah??berarti itu adil ya yah? berarti orang yang tinggal di rumah yang jelek itu memang butuh rumah itu ya? memang ingin rumah itu ya yah? padahal kan enak tinggal di rumah yang besar itu yah, pasti mau apa aja ada, tapi kenapa ada yang mau tinggal di rumah jelek itu yah, kenapa ada yang butuh tinggal di rumah jelek itu yah,kan nggak enak.”

Belum sempat menjawab anak itu kembali bertanya, “Berarti itu adil ya yah?” Sang anak seperti menagih kembali jawaban adil dari ayahnya tadi.Anak itu sendiri tidak bermaksud mempertanyakan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat, tidak mungkin dan tidak mampu anak seusia dia mengerti akan hal itu.
Sang ayah sekarang hanya diam saja dan memilih tidak menjawabnya..